Kita cukup sering merayakan Jakarta dengan air mata; perihal gigih perjuangan, adu cepat naik jabatan, sikut-sikutan… atau lebih sering karena perpisahan. Perpisahan berarti kehilangan. Kehilangan tergelapku adalah tak lagi melihatmu di muka Jakarta, yang mana itu membuat Jakarta selalu terasa salah. Jakarta yang dulunya berlimpah kegembiraan, kini ber-limbah air mata. Udara pun kian sesak kurasa. […]
Aku sudah sangat jauh melupakan kisah sedih dari sebuah kepergian yang brengsek, yang terkadang bisa sangat membahayakan kesehatan. Itu sudah berlangsung cukup lama, sampai pada hari ini kau memantiknya lagi. Aku yang selalu ada, malah kau beri lara. Kau bahkan tak berusaha untuk menjaga. Kau membiarkanku berjuang sendirian, kedinginan tanpa sedikit pun kau kasihan. Sementara […]


